Mengenal Putra Petrozo, Singa Panggung Taman Budaya

petrozo singa panggung

by Teuku Mahfud*

Ucapan selamat terus berdatangan, baik langsung oleh sahabat-sahabat, maupun dari pesan yang dikirimkan melalui ponselnya. Wajahnya terlihat sumringrah, dengan senyum yang tidak pernah putus. Malam itu, Sabtu 22 Agustus 2015, Putra Petrozo bersama bandnya AFTERBACK baru saja merilis album pertama mereka, Bukan Hampa. Sebuah jerih dari perjuangan yang hampir tanpa batas, setelah segala upaya dikerahkan selama bertahun-tahun.

*

Dikenal sebagai pribadi yang ramah dan hangat, Putra Petrozo (kadang ditulis Petrozzo) memang mudah untuk diajak berteman dan memiliki banyak sahabat. Dia adalah gitaris yang tergolong sangat top di dunia musik Banda Aceh. Betul! Dia  sangat terkenal sehingga penggemarnya pun berjibun, terutama cewek-cewek. Tidak heran pria berusia … (maaf, usia sengaja tidak disebutkan atas permintaan yang bersangkutan) sempat dikenal sebagai seorang womanizer kecil-kecilan (note: statement ini sering dibantah olehnya). Tapi, sumpah! Walau demikian dia sebenarnya adalah seorang cowok yang setia. Ketika sudah menikah (terutama setelah pernikahan kedua)  Putra menjadi seorang family man yang sangat sayang dan bertanggung jawab kepada anak-anak dan istrinya.

Kemahirannya bermain gitar, membuat jarang sekali ada anak band Banda Aceh yang tidak kenal dengan namanya. Mungkin sedikit pengecualian bagi musisi muda yang baru muncul. Dan ketika ada pementasan musik di Banda Aceh dia selalu dicap sebagai singa panggung yang selalu tampil maksimum dan garang. Putra Petrozo adalah nama lain untuk brutal!  Selain sering tampil di pentas-pentas musik di seluruh Aceh, Putra juga sangat ringan tangan sehingga sering diminta tolong oleh banyak event organizer untuk ikut terlibat baik sebagai panitia atau sound engineer di banyak kegiatan kesenian di Banda Aceh. Pengalaman bermusiknya selama … tahun (maaf, jumlah tahun sengaja tidak disebutkan atas permintaan yang bersangkutan) telah membuatnya sangat piawai dalam hal ini. Pokoknya kalau berbicara event di Banda Aceh, pasti ada sangkut-paut dikit dengan dia. Tidak sedikit event yang sudah dibuat olehnya bersama bendera Planet Organizer (sahamnya disini 82,3677 %) dan Gabungan Musisi Aceh.

**

Dalam beberapa hal, Putra Petrozo adalah antitesa dari banyak teori ilmu fisika. Salah satunya adalah tidak berlakunya prinsip “cahaya lebih cepat dari suara”  kepada dirinya. Fenomena ini sukar untuk dijelaskan bahkan oleh beberapa pakar fisika Banda Aceh yang paling kawakan sekalipun. Memang pakar-pakar fisika dunia seperti Stephen Hawking belum diminta pendapatnya, tapi ah sudahlahPutra memang berbeda! Contoh kasusnya adalah: Ketika sedang ngopi di Taufik Methodist (tempat mangkalnya sehari-hari), kawan-kawan sudah lebih dahulu mengetahui kehadirannya bahkan sebelum Putra menginjakkan kakinya di pintu masuk warkop tersebut. Suara bariton-nya sudah terdengar membahana di segenap penjuru warung kopi yang terletak di Jalan Pocut Baren ini, walaupun Putra masih berada di perempatan Panglima Polem Ujung (bagi yang tidak paham peta Banda Aceh, itu kira-kira berjarak 300 meter antara sumber suara dan recepientnya). 

Kami pernah dengan diam-diam mengukur level kebisingan suaranya melalui semacam sound level meter di perangkat android. Akhirnya didapat hasil sebagai berikut:

  • Putra berbisik-bisik – 50 dB
  • Putra berbicara manja – 65 dB
  • Putra berbicara biasa – 75 dB
  • Putra berbicara dengan excited – 85 dB
  • Putra tertawa terbahak-bahak – 95 dB
  • Putra marah kecil – 95 dB
  • Putra marah besar – 110 dB
  • Putra teriak-teriak di panggung – 120 dB
  • Putra bersin – 130 dB

Sebagai gambaran, pesawat jet yang lepas landas mempunyai intensitas suara sebesar 120 – 150 dB. Cukup dasyat bukan?

Selain suara yang besar, dia memiliki power yang hebat juga. Misal ada perhelatan di Open Stage Taman Budaya, saat sedang sound check gitarnya, Putra sama sekali tidak memerlukan microphone untuk berkomunikasi dengan engineer yang memegang kendali FOH yang berada jauh dari depan panggung. Cukup dengan berbicara seperti biasa, semua yang di depan akan mendengar dengan jelas apa yang dia katakan. Luar biasa! Tanpa microphone, dia bisa mengalahkan segala kebisingan yang terjadi di panggung bahkan hingga jauh ke depan. Gitaris Zakwannur alias Iwan Kadal pernah membuat teori bahwa Putra mungkin pernah menelan bulat-bulat sebuah amplifier dengan kekuatan 10.000 watt. Luar biasa!

Jadi, saran buat pembaca, jangan sampai kalian beradu argumen atau bersilat lidah dengan Putra Petrozo. Dijamin gak kuat dan langsung kalah! Dihembus saja bisa terbang kalian! Pengalaman di sini teman-teman jarang sekali mau adu kuat tekak dengannya. Repot!

***

Selain jagoan bersilat lidah, Putra juga jago bela diri secara fisik. Ini sesuai dengan falsafah hidupnya: pukul dulu baru tanya.” Kegemarannya terhadap martial art dimulai ketika masih belia dia sangat suka nonton video Kungfu, terutama The Condor trilogy (The Legend of Condor Heroes, The Return of Condor Heroes dan To Liong To). Jurus Tapak Duka Nestapa ciptaan Yoko sangat mahir dikuasainya. Berkat jurus tersebut, Putra berhasil selamat dari tawuran-tawuran yang terjadi ketika dia bersekolah di STM Budi Utomo, Jakarta. Saking banyaknya tawuran yang dia ikuti, tak terhitung jumlah baret-baret di wajah dan di badannya. Tawuran juga lah yang menyebabkan dia dikirimkan kembali ke kampung nenek moyangnya, Aceh.

Alkisah, pada suatu hari di bulan Desember tahun Xxxx (tahun dirahasiakan, sesuai permintaan), saat masih duduk di kelas 2 STM, dia pulang sekolah bersama 2 orang rekannya di sebuah siang yang sangat terik. Tiba-tiba mereka diserang oleh segerembolan siswa dari sekolah lain yang selama ini dianggap musuh bebuyutan STM Budut. Dengan kekuatan yang tidak seimbang, Putra cs dihajar hingga babak belur. Tragisnya, sebilah sangkur ditusukkan ke perut kanan Putra sebanyak dua kali. Dia terjengkang lalu pingsan. Semua berlarian menjauh melihat darah yang mengalir dari tubuhnya. Dia dicampakkan di parit besar yang berada di lokasi kejadian. Tubuhnya tergeletak di situ hingga sore harinya diambil oleh polisi dan diantarkan ke rumah sakit. Dia siuman setelah 3 hari koma. Alhamdulillah, Tuhan masih memberi umur untuk hambaNya itu.

Keluarga besar langsung memutuskan untuk memulangkan Putra ke Banda Aceh, ke rumah neneknya yang tercinta. Kebetulan nih, mumpung ceritanya flashback ke masa SMA, sekalian aja kita mundur ke masa yang lebih lama lagi. Yok!

Putra dilahirkan di Jakarta pada tanggal 1 Ramadhan 1397 Hijriah. Nama aslinya adalah Teuku Syahputra, anak ketiga dari empat bersaudara dari pasangan Teuku Nurdin dan Agusniar. Sebagai anak laki-laki satu-satunya di dalam keluarga, orang tuanya menyimpan harapan yang sangat besar kepadanya. Putra kecil dididik dengan ilmu agama yang cukup baik, dengan harapan akan menjadi anak yang sholeh di kemudian hari. Putra kecil rajin pergi ke surau kecil di dekat rumah mereka.

SD Borobudur Cilandak adalah sekolah formal pertama yang diikutinya. Di saat bersekolah di sinilah Putra mulai tertarik dengan musik. Awalnya salah seorang sepupu yang bernama Yudha Fran (kelak dikenal sebagai bassist ROTOR, band thrash metal terkenal Indonesia) bersedia mengajarkan cara bermain gitar kepadanya di saat masih duduk di kelas 4. Lagu pertama yang diajarkan adalah The Trooper dari Iron Maiden. Bersama kemudian mereka membentuk band Inflection, dimana Yudha bermain gitar dan Putra bermain bass. Walau masih kanak-kanak, mereka nekad mengikuti sebuah kompetisi band yang diadakan di Kalibata Mall. Inflection kalah, tetapi Yudha Fran mendapat predikat The Best Guitar.

Tekadnya untuk bermusik semakin kuat ketika bersekolah di SMP 131 Ciganjur. Bersama anak-anak SMIP, dia bergabung di dalam kelompok Empty Brain sebagai gitaris. Jiwa showmanship mulai muncul ketika bermain di sini. Aksi panggung yang gila dan brutal mulai dijajal dan akhirnya menjadi ciri khasnya hingga hari ini. Pokoknya, ketika Putra manggung akan berlaku peribahasa ini: “Tak ada kabel gitar yang tak tercabut….”, atau “Tak ada tiang mic yang tak jatuh…”atau “Tak ada stomp box yang tak tertendang…” Keren!

Bersama  Boni dan Mul, Putra kemudian mendirikan Nice F*ckin’ Live ketika duduk di STM Budi Utomo. Sebagai gitaris yang mulai banyak asam garamnya, dia sudah mempunyai ciri khas permainan sendiri. Pengaruh Dimebag Darrel dari kugiran Pantera terasa sekali pada permainannya. Kehidupan bersama Nice F*ckin’ Live berakhir ketika Putra pindah ke Banda Aceh.

Di Banda Aceh, dia melanjutkan sekolah di SMA Iskandar Muda dan mulai merintis kehidupan bermusik yang baru. Selepas SMA, bersama Poncik (vocal), Taufiq (bass) dan Khaidir (drum), Putra mendirikan ANTEK  yang beraliran grunge dan modern rock. Putra mulai mendapatkan perhatian dari khalayak musik Kutaraja. Bahkan fanbase pun mulai terbentuk. ANTEK bubar seiring keluarnya Poncik.

Deep Tan Oil adalah kehidupan berikutnya. Saat itu Putra dipercayakan oleh Dedy Andrian menjadi manager studio Metazone di daerah Lingkee. Deep Tan Oil yang beranggotakan Zofnath, Pei dan Jal mulai mempopulerkan musik Hip Metal di Banda Aceh. Mereka pun mulai membawakan musik sendiri dan bermain di luar Aceh. Di sinilah Putra berkenalan dengan calon istrinya Mona. Mona dinikahinya pada tahun xxxx (tahun dirahasiakan, sesuai permintaan). Tak lama kemudian putra pertama mereka lahir, Teuku Leo. Namun pernikahan ini tidak berlangsung lama. Perbedaan pendapat dalam banyak hal telah menjadi alasan bubarnya pernikahan mereka. Putra kemudian pindah ke Sabang dan mendirikan studio di sana.

Di tahun 2005, dia kembali lagi ke Banda Aceh dan mendirikan Planeto Studio dan Planet Organizer di bilangan Keutapang. Di masa inilah Putra berkenalan dengan Satriani, calon istrinya yang sekarang. Mereka menikah setahun kemudian dan sekarang memiliki dua orang putra Teuku Nabel dan Teuku Jabil. Profesinya sebagai musisi, sound engineer dan event organizer pun semakin berkibar. Berbagai event dia hadirkan ataupun terlibat di dalamnya.

Pada tahun 2014, Putra mendirikan AFTERBACK bersama Bobby, Syvan, Pei dan Emrin. Mereka merilis album perdana Bukan Hampa pada 15 Agustus 2015 yang lalu.

****

Tidak hanya menggeluti dunia musik saja, Putra juga ternyata menggemari ilmu-ilmu sosial dan filosofi. Kepekaannya terhadap lingkungan sekitar menyebabkan dia banyak terlibat di dalam aksi-aksi sosial yang terjadi di daerah Aceh. Misalnya aksi penggalangan dana yang dimotorinya untuk membantu pengungsi korban konflik Aceh di tahun 1999. Aksi penggalangan dana untuk korban bencana gempa bumi Yogya, Padang, Gayo; korban konflik Gaza; serta korban banjir Aceh Barat Selatan dan Tangse. Dia juga mendukung kelompok Darah Untuk Aceh yang selama ini fokus membantu anak-anak penderita Thallasemia di Aceh. Dibalik kegarangan seorang Putra Petrozo, ternyata tersimpan kebaikan hatinya.

Putra adalah seorang yang sangat menghargai freedom of speech dan freedom of expression. Baginya kebebasan berbicara dan berekspresi adalah sesuatu hal yang mutlak dan harus dihormati. Tetapi, menurutnya kebebasan seseorang itu dibatasi oleh kebebasan orang lain. Oleh karena itu dalam mengekspresikan sesuatu ide, hendaknya melihat situasi dan kondisi moral di daerah tersebut atau pun subjek orang yang mau dikritisi. Jangan seenaknya saja bicara atau berkarya dengan membawa embel-embel freedom of speech tetapi ujung-ujungnya menyakiti hati orang lain.

Dia pernah berkata “I respect your freedom of speech, and I don’t mind if you speak bad about me. But in return please respect my own freedom of speech. And I speak with my fist!

Petrozo memang sesuatu!

*****

Putra Petrozo adalah suri tauladan kita. Mari kita mendoakan agar dia selalu berada di dalam lindungaNya, selalu mendapat hidayahNya, dan diberi jalan untuk segera naik haji. Amin.

 

* Teuku Mahfud adalah teman curhat Putra Petrozo sejak dahulu kala.

 

Facebook Comments

4 thoughts on “Mengenal Putra Petrozo, Singa Panggung Taman Budaya

Leave a Reply

%d bloggers like this: